Pernah dengar ungkapan data is the new oil? Kalimat itu pertama kali muncul dari Clive Humby, seorang ahli data asal Inggris, hampir dua dekade lalu. Waktu itu, mungkin belum banyak yang sadar betapa benarnya ucapan itu. Tapi hari ini, di tengah derasnya arus digital, kalimat itu terasa lebih relevan dari sebelumnya.

Kalau dulu minyak adalah sumber energi yang menggerakkan industri, sekarang data adalah bahan bakar utama yang menggerakkan dunia. Perusahaan yang bisa mengolah data dengan cerdas akan melaju cepat dan perusahaan yang tidak memanfaatkan akan tertinggal bahkan mungkin mati perlahan.

Dunia Penuh Data, tapi Tidak Semua Bisa Memanfaatkannya

Setiap detik, jutaan interaksi digital terjadi. Orang mengunggah foto, berbelanja online, membuka aplikasi, mengisi formulir, dan berkomentar di media sosial. Tanpa kita sadari, kita semua sedang menghasilkan data dalam jumlah luar biasa.

Menurut laporan Statista (2024)[1], dunia menghasilkan lebih dari 120 zettabyte data per tahun jumlah yang hampir mustahil dibayangkan. Namun ironisnya, hanya sebagian kecil yang benar-benar dimanfaatkan. Banyak organisasi punya data, tapi data itu seperti sumur minyak yang belum disuling. Tersimpan, tapi tidak digunakan. Padahal, di dalamnya tersembunyi pola perilaku pelanggan, potensi pasar, efisiensi biaya, bahkan arah masa depan bisnis.

Dari Insting ke Insight

Dulu, banyak keputusan bisnis diambil berdasarkan intuisi: “Saya rasa ini bagus,” atau “Kita coba saja dulu.” Sekarang, era itu sudah lewat. Data menggantikan perasaan dengan pembuktian. Perusahaan yang cerdas membaca data bisa tahu apa yang disukai pelanggan sebelum pelanggan sendiri menyadarinya. Mereka bisa melihat tren sebelum menjadi tren, atau bahkan mencegah masalah sebelum terjadi.

Sebagai contoh, platform belanja online merekomendasikan produk yang kita butuhkan tanpa kita cari. Perusahaan logistik memprediksi lonjakan permintaan lewat data cuaca dan kalender. Tim HR bisa membaca tren kinerja dan retensi karyawan dari data kehadiran dan pembelajaran digital. Itulah kekuatan data. Ia bukan hanya menceritakan apa yang sudah terjadi, tapi juga membuka jendela ke masa depan.

Dari Mengumpulkan Data ke Manfaat Nyata

Namun, kenyataannya tidak semudah itu. Banyak organisasi terjebak pada semangat “mengumpulkan data”, tanpa tahu mau diapakan. Padahal, data yang tidak digunakan hanya jadi beban digital. Data baru punya nilai ketika diolah, dianalisis, dan diterjemahkan menjadi keputusan. Seperti minyak mentah, data perlu “disuling” yaitu lewat teknologi, proses, dan budaya kerja yang mendukung.

Ada tiga langkah utama untuk mengubah data menjadi energi bisnis yang berharga:

1. Bangun Integrasi, Jangan Hanya Koleksi.

Data yang tercecer di berbagai sistem tidak akan berguna. Organisasi perlu membangun ekosistem data yang terhubung antar fungsi yaitu keuangan, SDM, operasional, pemasaran, dan pelayanan.

  1. Kembangkan Budaya Melek Data.

Bukan cuma tim IT atau analis yang harus bisa baca data. Semua karyawan dari level staf hingga manajemen perlu paham cara menafsirkan data dan menjadikannya dasar pengambilan keputusan.

  1. Konversi Data Jadi Nilai Tambah

Data bisa jadi profit generator bila diolah dengan cerdas. Misalnya, data pelanggan membantu membuat kampanye yang lebih tepat sasaran, data internal mempercepat inovasi produk, atau data perilaku karyawan memperkuat engagement dan produktivitas.

Data sebagai Kekuatan Internal

Selain membuka peluang bisnis, data juga bisa memperkuat kapasitas internal organisasi.
Dengan data, manajemen bisa melihat dengan jelas bagaimana kinerja setiap unit berjalan, di mana hambatan muncul, dan apa yang perlu diperbaiki.

Misalnya, di perusahaan berbasis layanan, data bisa digunakan untuk melihat tren pelatihan dan dampaknya terhadap kinerja lapangan. Menganalisis efektivitas rekrutmen dan retensi karyawan. Mengukur kepuasan customer dan menemukan titik perbaikan.

Semua keputusan itu bukan lagi hasil dugaan, tapi hasil pembacaan data yang objektif.
Dan dari sanalah muncul budaya organisasi yang lebih tangkas, adaptif, dan berorientasi hasil.

[1] https://www.statista.com/statistics/871513/worldwide-data-created/

By |2025-12-30T05:20:01+00:00January 17, 2025|Blog|0 Comments
Go to Top