Dulu, menjadi pemimpin berarti menjadi orang yang paling tahu segalanya. Pemimpin dianggap harus memberi perintah, mengawasi, dan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Tapi dunia kerja hari ini berubah cepat dan begitu juga cara kita memimpin.

Karyawan tidak lagi mencari bos yang memberi instruksi, tapi coach yang membantu mereka tumbuh. Mereka tidak butuh pengendali, tapi pembimbing. Itulah mengapa kepemimpinan masa kini sedang berevolusi, dari command and control menjadi coach and connect.

Tim dengan pemimpin yang berperan sebagai coach memiliki engagement lebih tinggi dibanding tim yang dipimpin dengan gaya otoritatif, karena orang tidak hanya ingin disuruh bekerja, mereka ingin dipahami, diberi ruang berkembang, dan diberi kepercayaan.

Dari Mengawasi ke Membimbing

Pemimpin yang berperan sebagai coach tidak fokus pada apa yang salah, tapi pada apa yang bisa dipelajari. Mereka melihat kesalahan bukan sebagai kegagalan, tapi sebagai bahan bakar pertumbuhan.

Pemimpin yang mengadopsi pendekatan coaching mampu meningkatkan performa tim sebesar dan mempercepat proses adaptasi terhadap perubahan. Kuncinya adalah pergeseran sudut pandang, dari menilai ke mendukung, dari memerintah ke memberdayakan.

Pemimpin yang menjadi coach tahu bahwa tugasnya bukan membuat semua orang sempurna, tapi membuat mereka percaya bahwa mereka mampu berkembang.

Mendengar Lebih Banyak, Mengarahkan Lebih Sedikit

Salah satu keterampilan utama seorang coach adalah kemampuan untuk mendengarkan secara aktif. Alih-alih langsung memberi solusi, mereka mengajukan pertanyaan yang membuka wawasan.

Pertanyaan seperti “Apa yang kamu pelajari dari pengalaman ini?” atau “Bagaimana kamu ingin melangkah selanjutnya?” bisa jauh lebih memberdayakan dibanding sekadar memberi instruksi.

Karyawan merasa lebih termotivasi ketika pemimpin mereka menggunakan pendekatan coaching dalam diskusi kinerja, bukan hanya menilai hasil, tapi mengeksplorasi proses. Pemimpin yang baik bukan yang punya semua jawaban, tapi yang tahu pertanyaan apa yang membuat orang berpikir lebih dalam.

Coaching sebagai Budaya, Bukan Sekadar Teknik

Coaching bukan hanya gaya bicara, tapi budaya organisasi. Dalam budaya coaching, setiap orang merasa punya tanggung jawab untuk saling belajar dan tumbuh bersama. Organisasi yang mengintegrasikan prinsip coaching dalam sistem kepemimpinan memiliki tingkat retensi karyawan lebih tinggi dan kinerja kolektif yang lebih stabil.

Budaya coaching menciptakan rasa saling menghargai. Pemimpin yang menjadi coach tidak duduk di menara gading, tapi berjalan bersama timnya yaitu mendengarkan, menuntun, dan belajar bersama.

Feedback yang Menguatkan, Bukan Menghakimi

Pemimpin yang berperan sebagai coach tahu bahwa umpan balik adalah jantung dari pertumbuhan. Tapi mereka juga tahu bahwa cara menyampaikan feedback sama pentingnya dengan isinya.

Feedback yang baik bukan tentang menyoroti kekurangan, tapi tentang membantu orang melihat potensi terbaik dalam dirinya. Karyawan yang menerima feedback dengan pendekatan coaching merasa lebih percaya diri untuk memperbaiki diri dan tetap termotivasi. Pemimpin sejati tidak membuat orang merasa kecil ketika salah, tapi membuat mereka percaya bahwa mereka bisa lebih baik setelahnya.

 

 

Pemimpin yang Menumbuhkan, Bukan Mengendalikan

Peran seorang coach adalah menumbuhkan kepercayaan diri, bukan ketergantungan. Mereka tidak ingin timnya terus bergantung pada arahan, tapi mampu mengambil keputusan dengan mandiri. Pemimpin seperti ini tidak hanya membangun kinerja hari ini, tapi juga menciptakan pemimpin-pemimpin baru untuk masa depan.

“A boss has employees. A coach builds leaders.”

By |2025-12-30T06:33:58+00:00July 14, 2025|Blog|0 Comments
Go to Top